-->

Kriteria Pemimpin Berdasarkan Al-Qur'an -NgajiNgopi.com

Kali ini Ngajingopi.com akan menulis sebuah wawasan untuk umat muslim guna untuk pengembangan dan pengetahuan-pengetahuan dalam diri kita. Supaya umat muslim semakin lebih cerdas, pintar dan pandai dalam mengambil sebuah keputusan.  Tulisan yang berjudul di atas merupakan sebuah tulisan berasal dari buletin jumat yang saya ambil dari sebuah masjid ketika saya jumatan waktu. Tulisan tersebut di tulis oleh Ajahari M.ag. Saya tuliskan di sini agar sahabat muslim semua bisa menambah pengetahuan atas tulisan tersebut. dan tentunya semoga bermanfaat buat kita semua.

Di Indonesia sendiri dalam menentukan sebuah pemimpin tentunya  melalui sebuah pemilu. Dalam penentuan tersebut kita sebagai rakyat tidak boleh salah memilih pemimpi. Sebagaimana kita ketahui semuanya peran pemimpin memilki pengaruh yang kuat terhadap kelangsungan rakyatnya, tentunya di berimbas juga pada kehidupan-kehidupan islam. Melihat juga negara kita adalah negara muslim.

Islam memandang institusi kepemimpinan sebagai salah satu hal penting yang harus di tegakkan. Sekian banyak ayat Al-quran yang mengandung term atau istilah seperti khilafah (QS Al-Baqarah [2]:30, Shod [38]: 26), Ulul amri (QS an-nisa [4]: 59), dan al-imam/ A’immah (QS Al baqarah [2]:124, al furqan [25]:74  al anbiya [21]:73, as-sajdah [32]: 24 serta term al-baldah/al-bilad dan al-qoryah (QS Al-Baqarah [2]:126, Ibrahim [14]:35) menunjukkan pentingnya sosok pemimpin dan penguasa yang beriman, cerdas dan bijaksana dalam suatu masyarakat dan bangsa. kepemimpinan merupakan suatu keharusan dalam masyarakat, agar pembangunan dan hak-hak masyarakat yang dipimpin dapat dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Bahkan Rasulullah menjadi kepemimpinan sebagai salah satu dari sendi tegaknya kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini sangat disadari, karena pembanguan masyarakat tidak akan dapat berjalan dengan baik tanpa dipimpinoleh seorang pemimpin. Disadari pula bahwa ditangan pemimpinlah terletak berbagai kebijakan yang dapat mempengaruhi kesejahteraan dan memenuhi hajat masyarakat, serta dipundak merekalah terletak maju mundurnya wilayah dan masyarakat yang dipimpinya kedepan. Tentang pentingnya memilih kepemimpinan, Rasulullah SAW pernah berpesan:

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌفِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْ أَحَدَهُمْ

Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” HR abu dawud

Islam tidak hanya mengatur persoalan individu, tetapi juga kehidupan bermasyarakat dan bernegara termasuk masalah kepemimpinan. Kehidupan bermasyarakat dan bernegara dapat tercipta dengan baik dan benar apabila dipimpin oleh seorang penguasa (imam malik) yang berkualitas baik aspek integritas (iman, takwa, jujur, adil) maupun aspek kapabilitas (cerdas,bijaksana, vusioner).

Dalam  hal memilih pemimpin, islam telah memberikan beberapa kriteria dan prinsip fundamental, antara lain, 

Pertama

Seorang pemimpin yang dipilih adalah yang memiliki komitmen keimanan dan ketakwaan yang kuat pada rabbnya (Allah SWT):

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْاۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ

Dan kami jadikan antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat kami. (QS as-sajdah [32]: 24)

Terkait ayat tersebut, mufassir kontemporer syekh wahab az-zuhaili dalam al-tafsir al-mansur jilid XI hal.238 menjelaskan:

إن اتخاذ بعض الناس أئمة سببه الصبر على الطاعة للد ين, والرضا بأمر الله, والعمل على إعلاء كلمة اللة, والصبر على اللاء والمحن في سبيل الله تعالى, فإن جعل الأ ئمة ها ديْن يحصل با لصبر, وهذا أمر با لصبر وا لإ يمان بأن وعدالله حق

(Sesungguhnya orang-orang yang idelanya layak di jadikan dalam pilihan sebagai pemimpin adalah mereka yang memiliki keimanan, dan ketaatan serta kesabaran dalam menjalankan perintah Allah SWT. Ridha sengan Perintah-Nya, meninggalkan kalimat-Nya, terbukti sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan, merekalah yang layak dijadikan pemimpin.)

Mengapa demikian?

Karena seorang pemimpin yang komitmen dan benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dia akan menjalankan kepemimpinanya dengan kebaikan, kesabaran dan dalam koridor kebenaran. Di antar kebaikan dan kebenaran itu adalah ikhlas dalam memimpin dan memiliki semangat berkorban, jujur dan amanah, lebih mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Pemimpin yang muttaqin akan menjadikan kepemimpinannya sebagai wasilah penghambaan dari kepada Allah dan meninggalkan panji kalimat-Nya, dengan memajukan dan meningkatkan derajat syiar agama Allah dan kemajuan umat, bukan menjadikan simbol agama untuk meraih kekuasaan dan popularitas. Karena itu, iman dan takwa merupakan syarat utama yang harus diperhatikan bagi kita dalam memilih seorang pemimpin dan semua itu akan di pertanggunjawabkan di hadapan tuhan.

Kedua

Memiliki tanggungjawab serta komitmen keikhlasan dan pengorbanan baik waktu, tenaga, moral dan material dalam melayani rakyat yang dipimpin. Saat ini tidak jarang ditemukan pemimpin yang tidak mempunyai tanggungjawab dalam kepemimpinannya. Mereka tidak peduli akan ketidakadilan dan kemiskinan yang terjadi pada masyarakatnya. Saat pemilihan begitu dekat dengan rakyat, begitu banyak janji yang ditabur, namun setelah terpilih lupa janjinya. Tipe kepemimpinan semacam ini tentunya dapat dipastikan tidak akan awet karena pada akhirnya kepercayaan masyarakat akan berangsur-angsur hilang. Rasulullah dalam sebuah pesan mengingatkat tentang tanggungjawab seorang pemimpin yang akan dituntut kelak diakhirat: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinanya, maka seorang imam atau penguasa adalah pemimpin, dan dia akan di minta tanggungjawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga 

Kriteria ketiga seorang pemimpin adalah memiliki sifat amanah. Menurut Al-quran, amanah adalah suatu tugas yang dipercayakan kepada seseorang termasuk pemimpin, dan ia berkewajiban menjalankannya sesuai dengan haknya. Maka dari itu, pemimpin yang amanah berarti seseorang yang diberi tugas-tugas kepemimpinan dan mampu menjalankan tugas-tugas kepemimpinan itu sesuai dengan yang memberi amanah, baik amanah dari aspek keagamaan sebagai khalifah, maupun amanah konstitusional dan kontrak sosial. Menghianati amanah tidak hanya menghianati konstituen, tapi juga khianat kepada Allah dan rasul : “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” QS Al-Anfal [8]:27. Pemimpin yang amanah memandang bahwa menjadi pemimpin pada hakikatnya adalah untuk mengbdi kepada Allah SWT dan menjadi pelayan masyarakat (abdi masyarkat), bukan sarana untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Dalam hal amanat, Allah SWT berfirman dalam kitab suci Alquran : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkanya dengan adil. (An-Nisa [4]: 58)

Keempat 

    Pemimpin yang baik dan benar ialah visioer, kapabel, yaitu mempunyi ilmu dan kemampuan dalam memimpin. Pemimpin yang visioner, kapabel berkemampuan dalam memimpin serta didukung ilmu pengetahuan yang luas, cerdas dan memiliki wawasan yang luas serta jauh kedepan di yakini merupakan salah satu faktor kesuksesan dalam memimpin. Seorang pemimpin juga harus mampu memerankan diri sebagai teladan. Keteladanan itu sangat pentig, sebab ia berperan sebagai public figur yang menjadi contoh bagi mereka yang dipimpinya.

Kelima 

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dzuhud. Yakni pemimpin disamping menjalankan tugas-tugas kepemimpinan yang telah dipukulnya juga tekun dalam melakukan ibadah dan pendekatan kepada sang penciptanya. Contoh pemimpin yang dapat dijadikan dalam kedzuhudan ini adalah Umar bin khatab dan Umar bin abdul aziz. Keduanya meski sebagai khalifah namun tetap hidup sederhana, masyarakat dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan rakyat  baik dalam membangun ekonomi, fasilitas umum dan lain sebagainya.

Berdasarkan uraian dan kriteria tadi, kita optimis bahwa masih ada sosok kriteria seperti yang diidamkan oleh Al-quran, yakni sosok pemimpin yang beriman, bertakwa, taat dan sabar dalam membimbing rakyatnya, serta memiliki komitmen membangun kebersamaan, kebangsaan, sekaligus memiliki komitmen yang kuat untuk kepentingan keumatan serta li’ila kalimatillah (meninggalkan kalimat Allah), bukan komitmen pribadi dan kelompok belaka. 

Amin...

*Penulis adalah Pengurus PW DMI Kalteng Bidang Pemberdayaan dan Organisasi (Ajahari M.ag)


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel