Aspek Problematika Penerjemahan Bahasa Arab dan Cara Mengatasinya – Belajar Bahasa Arab


Asssalamualaikum Wr Wr

Apakabar sahabat ngajingopi.com semua? Semua tetap sehat selalu ya. Kali ini blog ngajingopi.com akan memaparkan sebuah artikel atau materi belajar bahasa arab lagi, yakni tentang problematika penerjemahan dalam bahasa arab sekaligus cara mengatasinya. Sebenernya dalam penerjemahan-penerjemahan bahasa lain juga bisa, akan tetapi penulis kurang mengetahui hal-hal lain yang tidak ada dalam penerjemahan bahasa arab ini. Jadi dalam materi ini penulis fokus dalam penerjemahan dalam bahasa Indonesia-Arab. 
Problematika penerjemahan itu merupakan masalah-masalah yang sering di temui oleh seorang penerjemah. Jadi jika teman-teman ingin menjadi seorang transliter maka wajib mempelajari masalah-masalah tersebut sebelum terjun kelapangan. Yuk langsung saja kita simak ruang lingkupnya. 
Macam-macam problematika penerjemahan di bagi menjadi dua macam yakni. Linguistik (dalam aspek kebahasaan) dan non linguisyik (diluar aspek kebahasaan).

Aspek linguistik

Problematika penerjemahan dalam  linguistik merupakan aspek-aspek kebahasaan yang meliputi tataran morfologis («/-sharf), sintaksis (al-nahw) dan sematik (al-dilalah). 
Problematika penerjemahan dalam bidang linguistik mencakup kolokasi, transliterasi dan pungtuasi, urutan kata dan idiom.

  • Kolokasi

Kolokasi merupakan gabungan dua kata atau lebih, dengan kata lain. Artinya ia meiliki kata yang benar dan wajar oleh penutur kata bahasa tersebut. Seprti contohnya dalam bahasa indonesa seperti “mati lampu” tidak mungkin kita mengatakan “wafat lampu/meninggal lamu/gugur lampu”.  Begitu pun dengan bahasa arab seperti contoh لعب دورا   (bermain peran) memiliki kata lain juga yaitu غطى الأخبار   yang artinya meliput berita. 

  • Transliterasi dan pungtuasi

Transliterasi merupakan penyalinan dari penggantian huruf ke huruf yang lain lepas dari bunyi lafal yang sebenarnya. Contohnya المسجد الاقصى kat Al-aqsa ada yang menulis dalam penerjemahan bahasa indonesia (termasuk bahasa lainya) dengan Al Aqsha, Al Aqsa, Al-Aqsho, Al Aqso, Al-Aqsha, Al-Aqsa, Al-aqsha, Aqsha,Aqsho dsb. 
Jadi tidak ada pedoma khusus mana yang benar dalam penulisan kata Al-aqsa tersebut. 
Yang kedua adalah pungtasi. Pungtuasi merupakan  tanda baca lazim berkenaan dengan penulisan tanda grafis yang digunakan secara konvensional untuk memisahkan berbagai satuan bahasa tertulis.Jadi pungtuasi bertalian dengan pemakaian huruf kafital, huruf miring, koma, tanda pisah, tanda petik, tanda seru, tanda tanya dan sebagainya. Jadi maksudnya mana yang harus di kasih tanda titik, koma, tanda seru, dan sebagainya. 

  • Urutan kata 

Maksudnya ialah Penempatan kata dalam deretan tertentu menurut norma suatu bahasa, baik dalam tingkat kalimat dan klausa maupun dalam tingkat frase.   Misalkan dalam bahasa indonesia “memang mudah mencari kambing hitam, tetapi sulit mencari hitamnya kambing” jadi, dalam menerjemah dapat mengetahui urutan-urutan kata sesuai dalam bahasa daerah tersebut. 

  • Idiom 
Merupakan unit bahasa yang tersusun dari dua kata atau lebih, yang melahirkan makna baru tertentu yang berbeda sama sekali dari makna kata per kata . dalam bahasa arab idiom di sebut juga dengan   تعبير اصطلاح
Jadi maksudnya adalah susunan dari dua kata atau lebih yang menimbulkan makna baru. Jadi ia tidak bisa di terjemahkan secara harfiah atau satu-satu. Contohnya seprti ذَهَبَ عَنْ (Meninggalkan). Kata tersebutkan meiliki dua kata dalam bahasa arabnya, namun di terjemahkan dalam bahasa arab meiliki makna baru yaitu “meninggalkan”, jadi itulah yang di namakan idiom. 
Lantas apa perbedaan antara kolokasi dan idiom, tentu berbeda ya. Kalau kolokasi bisa di terjemahkan perkata akan tetapi kalau idiom tidak bisa. 

Aspek nonlinguistik

  • Istilah-istilah budaya (sosial dan kultural) contohnya misalkan نؤوم الضحى  yang artinya orang kaya. Akan tetapi jika di terjamhakan kata نؤوم الضحى  adalah orang yang tidur setelah sholat dhuhda. Padahal dalam budaya tersbut adalah di maksudkan untuk orang perempuan yang mulus tanganya jadi ia tidak pernah kerja dan di sebut sebagai orang kaya, hal ini juga perlu di fahami oleh seorang penerjemah.
  • rasa enggan dan membosankan. Ini merupakan rasa enggan dan rasa malas terhadap mahasiswa dan lainya saat menghadapi teks berbahasa arab. Yang mana kurang fahamnya bahasa arab dan kurang menguasai kata-kata bahasa arab. Hal ini yang menjadi kendala untuk menerjemahkan bahasa arab. 
  • Tingkat kemampuan penerjemah yang berbeda-beda.  Pada pengetahuan seorang yang menguasi bahasa arab pun tidak ada yang sama. Ia memiliki kemampuan yang berbeda beda, begitu juga dalam ia menerjemahkan gaya menerjemahkan suatu teks juga berbeda-beda. Maksudnya adalah masih dalam satu konteks tapi bisa saja di terjemahkan ke kata-kata lain tapi masih dalam satu makna.
Cara mengatasi problematika penerjemahan
Dari problematika-problematika di atas merupakan sebuah masalah yang mungkin akan terjadi kepada seorang penerjemah, nah berikut adalah cara mngatasi problematika tersebut.

  1. Mempelajari lebih dalam lagi berbagai ilmu kebahasaan.
  2. Mempelajari kebudayaan yang dimiliki dari bahasa target.
  3. Berpedoman kepada kamus dan pedoman transliterasi yang berlaku.
Demikian materi pengetahuan problematika penerjemaha  dan cara mengatasinya, semoga bisa di fahami dan bermanfaat...)

Assalamualaikum Wr Wb

0 Response to "Aspek Problematika Penerjemahan Bahasa Arab dan Cara Mengatasinya – Belajar Bahasa Arab"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel